Sejuta Pesona Kemadohbatur


Jendela Gua, 06 April 2017
Matahari belum beranjak cukup tinggi saat angkot oranye itu memasuki halaman parkir PKM Joglo Pleburan. Pagi itu tanggal 17 Maret 2017. Tim caving, yang terdiri dari aku, Iim, Brillian, Ayudha, dan Tahmida, bergegas menyambutnya dengan menaikkan barang – barang kami ke dalamnya. Setelah sholat subuh, segera kami naik angkot yang akan membawa kami ke Desa Kemadohbatur, Grobogan. Perjalanan kami, yaitu Pengembaraan Masa Bakti WAPEALA Undip Lapis XXXIII pun dimulai.            
Dingin pagi tidak membuat semangat kami surut, walapun selama di angkot kami habiskan waktu untuk tidur, pembalasan atas sedikitnya waktu tidur kami malam sebelumnya. Di tengah perjalanan, kami membeli sarapan untuk dimakan sesampainya kami di tujuan. Sampai di Rumah Pak Loso, tempat hunian kami selama di sana, berbasa – basi sebentar, lalu bergegas mengeluarkan barang – barang dari angkot. Rumah Pak Loso cukup besar dengan ruang tamu yang luas menjadi alasan kami untuk memilih menginap di sana, selain karena rekomendasi Pak Kepala Desa. Tak lama setelah sarapan, wearpack sudah menempel di masing – masing tubuh kami, dan sembari menunggu perlengkapan mapping disiapkan oleh Ayudha, yang lain menyiapkan roti, susu, dan air minum untuk bekal makan siang kami. Tak lupa kami melakukan pemanasan yang wajib dilakukan sebelum kegiatan apapun untuk menghindari terjadinya keseleo, kram, terkilir dan meminimalisir terjadinya kecelakaan selama kegiatan.            
Gua pertama yang jadi tujuan kami adalah Gua Gajah. Disebut Gua Gajah karena ukuran lorong guanya yang luas dan lebar. Gua ini belum banyak terjamah oleh orang awam, dapat dilihat dari masih banyak ornamen hidup yang melekat di dinding atau dasar gua. Namun sayangnya gua ini dijadikan lokasi tambang fosfor bagi warga sekitar, dan beberapa bagian gua dijadikan tempat untuk pembuangan sampah. Gua Gajah menurut kami merupakan gua yang cukup mudah untuk dipetakan, hanya saja lorong guanya lumayan panjang dan akan butuh waktu lebih dari sehari untuk memetakan seluruh isi gua Gajah. Karena hari sudah larut sore dan target kami tidak akan mapping lebih dari jam 5, maka kami memutuskan untuk menyudahi mapping kami pada hari itu. Alhasil, kami hanya melakukan eksplore sampai ujung gua Gajah. Kembali ke rumah Pak Loso, kami segera membersihkan diri dan membereskan perlengkapan mapping. Antri mandi adalah hal yang paling menyebalkan menurutku, walaupun sudah diberi jatah 10 menit tiap orang, namun tetap saja cewek tidak akan bisa mandi dengan cepat. Setelah semua bersih dan wangi, kami membagi tugas untuk masak makan malam. Kai dimudahkan dengan diizinkannya menggunakan fasilitas dapur milik Bu Loso untuk memasak. Bayangkan jika kami harus menggunakan kompor spiritus atau kompor gas portable, pasti akan memakan waktu sangat lama hanya untuk menggoreng tempe. Akhirnya saat yang paling dinanti tiba, yaitu makan malam. Apa yang lebih membahagiakan dari masak masakan enak yang dimakan sendiri? Evaluasi dan briefing menjadi penutup kegiatan kami
Hari itu. Evaluasi hari itu adalah kami kurang gercep (gerak cepat) sehingga kegiatan tidak sesuai rundown acara, namun untungnya kegiatan kami pada hari itu tetap berlangsung dengan baik. Pembagian tugas saat ISHOMA juga diperlukan untuk menghindari mandi dan masak yang lama. Adzan subuh membangunkan kami dan menjadi pengingat untuk segera memulai hari. Selepas sholat subuh kami  masak dan sarapan, tanpa mandi karena udara dan air pagi hari di Kemadohbatur sangat menusuk tulang dan kami tidak mau membuang waktu untuk antri mandi. Lekas kami memakai wearpack, menyiapkan alat mapping, menyiapkan bekal makan siang, dan melakukan pemanasan.
Gua kedua tujuan kami adalah Gua Pawon yang letaknya tidak jauh dari Gua Gajah. Cukup berjalan sepuluh menit dari rumah Pak Loso, dan voila sampailah kami di entrance gua Pawon. Entrance gua Pawon sudah tidak alami karena terdapat bekas gembok dan gerbang buatan manusia. Gua Pawon adalah gua yang membuatku jatuh hati sekaligus setengah benci. Kenapa? Gua ini penuh dengan ornament hidup yang sangat memukau, juga terdapat aven atau jendela gua yang menjadi sumber cahaya di tengah gelap abadi dalam gua. Sebalnya, karena gua ini masih hidup lantai guanya yang menyerupai tanah liat menjadi seperti lumpur hisap. Sepatu boots kami yang jadi korban keganasan lumpur hisap ini. Selain itu ada mitos yang beredar di masyarakat sekitar mengenai gua Pawon bahwa dulunya gua ini digunakan sebagai tempat pembuangan mayat pada jaman G30SPKI. Dinding gua Pawon terdapat beberapa bekas vandalisme yang membuat kami berkesimpulan dulunya gua ini adalah gua wisata. Gua Pawon juga bekas lokasi tambang yang membuat lorongnya berlubang sana – sini, menjadikan kami cukup sulit untuk memetakan gua ini. Karena panjangnya gua dan waktu kami yang tidak cukup, kami memutuskan untuk menelusuri sampai ujung gua.            
Hari kedua cukup melelahkan bagiku. Aku dan Ayudha memutuskan untuk mandi di masjid, menghindari lamanya antrian kamar mandi dan mengantisipasi waktu yang terbuang percuma. Setelah itu kami masak, menikmati masakan kami sendiri, dan dilanjut dengan evaluasi. Evaluasi masih ditekankan pada waktu kegiatan kami yang belum bisa menyamai rundown acara akibat terlalu lama istirahat siang dan persiapan alat mapping. Namun setidaknya hari ini aku merasa kami lebih baik dari kemarin. Setelah evaluasi, Iim berbaik hati membuatkan masing – masing segelas coklat panas untuk kami sebagai pengantar tidur.            
Esoknya semangat kami meluap karena hari itu merupakan hari terakhir kami menelusuri dan memetakan gua di daerah Kemadohbatur. Gua terakhir yang kami kunjungi adalah Gua Landak. Gua ini letaknya paling jauh dibandingkan gua yang lain, perlu perjalanan sekitar 30 menit menyusuri ladang jagung. Karenanya kami membawa bekal makan siang lebih banyak dari kemarin. Dari tiga gua yang telah kami telusuri, hatiku tertambat pada indahnya ornament gua Landak yang masih hidup dan alami, belum banyak terjamah tangan manusia. Gua terakhir ini berhasil kami petakan sampai ujung, rasanya puas sekali. Kami berjalan kembali ke rumah Pak Loso dengan mendokumentasikan perjalanan pulang kami: wearpack kotor penuh lumpur, headlamp dan senter terpasang di helm, sepatu boots kotor penuh lumpur, dan muka lelah penuh keringat campur lumpur. Namun kebahagiaan tetap tercermin di wajah kami.            
Sorenya kami bergegas mandi, masak dan makan malam. Packing akhir kami terlalu terburu – buru dan sedikit berantakan karena ternyata angkot yang menjemput kami sudah datang. Empat jam perjalanan pulang terasa amat singkat karena kami lalui dengan tidur lelap. Sampai di PKM, segera kami mengeluarkan alat dan mencuci alat.            
Tiga hari di Kemadohbatur terasa amat singkat mengingat indahnya gua dan ornament yang telah kami susuri, keramah tamahan warga desa Kemadohbatur, kesederhanaan warganya yang tidak segan – segan menawari untuk mampir ke rumah mereka ketika kami lewat, sejuknya udara desa yang melegakan pernafasan, dan memukaunya pemandangan ladang jagung. Banyak pelajaran yang dapat kami petik dari sini, dan membuat kami bersyukur serta merasa semakin dekat dengan Sang Pencipta.

http://www.kompasiana.com/dzarnadzar/sejuta-pesona-kemadohbatur_58e5dd1caf7a61de065d851e

Diponegoro Seven Summit 2012



Yuk cek video Diponegoro Seven Summit 2012 kami di instagram WAPEALA


Throwback Diponegoro Seven Summit 2012

Earth Hour 2017



Earth Hour itu kalau diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia artinya jam bumi, mungkin bisa disimbolkan sebagai waktu yang diberikan oleh manusia untuk memperhatikan keadaan bumi ini. Earth Hour adalah salah satu kampanye WWF, organisasi konservasi terbesar di dunia yang berupa inisiatif al untuk mengajak individu, komunitas, praktisi bisnis dan pemerintah di seluruh dunia untuk turut serta mematikan lampu dan peralatan elektronik yang sedang tidak terpakai selama 1 jam pada setiap hari sabtu terakhir minggu ketiga bulan maret setiap tahunnya.

Tujuan utama dari kampanye ini adalah mengajak publik untuk melakukan perubahan gaya hidup yang sederhana dan murah yaitu hemat energi karena ketergantungan manusia terhadap listrik terus meningkat dari waktu ke waktu sedangkan sebagian besar dari pembangkit listrik itu berbahan bakar fosil (minyak bumi, batu bara, dan gas alam) yang menghasilkan gas rumah kaca pemicu pemanasan al.

Nah pemanasan al ini berdampak pada cepatnya proses pencairan es di kutub sehingga memicu naiknya permukaan air laut jadi tidak heran jika daratan rasanya semakin tenggelam. Selain itu, pemanasan al juga menjadi salah satu pemicu kebakaran hutan, pemutihan karang, perubahan iklim dan peningkatan potensi kepunahan keanekaragaman hayati terutama yang hidup di daerah tropis.

Sejarah Earth Hour
Earth Hour berawal dari kampanye kolaborasi antara WWF – Australia, Fairfax media, dan Leo Burnet untuk mengurangi gas rumah kaca di Sydney, Australia sebanyak 5% pada tahun 2007. Kolaborasi ini dimulai pada tahun 2004, saat itu WWF Australia mengadakan pertemuan dengan sebuah biro iklan, Leo Burnet untuk membicarakan solusi untuk menanggulangi masalah perubahan iklim yang semakin parah dan cara melibatkan warga Australia dalam kampanye isu perubahan iklim.

Tahun 2005, mereka mengembangkan sebuah konsep yang diberi nama “The Big Flick”. Inilah cikal bakal dari konsep Earth Hour. Pada tahun 2006, konsep ini kemudian diterapkan pada Fairfax media yang mendukung kegiatan ini. Akhirnya Earth Hour pertama dilaksanakan pada tanggal 31 Maret 2007.

Setelah itu, bulan Maret tahun berikutnya Earth Hour terus dilaksanakan sampai saat ini. Inilah catatan pelaksanaan Earth Hour dari tahun ke tahun.

Earth Hour 2007 (31 Maret 2007)
Earth Hour 2008 (29 Maret 2008)
Earth Hour 2009 (28 Maret 2009)
Earth Hour 2010 (27 Maret 2010)
Earth Hour 2011 (26 Maret 2011)
Earth Hour 2012 (31 Maret 2012)
Earth Hour 2013 (23 Maret 2013)
Earth Hour 2014 (29 Maret 2014)

Untuk tahun ini, Earth Hour dilaksanakan pada tanggal 28 Maret 2015

Apa yang harus dilakukan untuk mendukung Earth Hour?
Ada banyak hal sebenarnya, tidak terbatas pada kegiatan Earth Hour saja tapi kalian dapat berpartisipasi dalam kegiatan Earth Hour dengan memandamkan lampu dan alat elektronik yang tidak kalian gunakan pada tanggal 28 Maret 2015 jam 20.30 sampai 21.30 WIB, cuma 60 menit kok (bisa lebih kalau kalian mau). Tapi aksi penghematannya tidak cuma pada tanggal itu, jika sekarang kalian ingin menerapkan konsep hemat energi, kenapa tidak? Aksi peduli lingkungan lainnya yang dikampanyekan oleh Earth Hour adalah penghematan limbah plastik, membawa botol minum sendiri, naik angkutan umum, menolak styrofoam, dan berbagai aksi lainnya. Penjelasan terkait hal ini akan aku bahas pada postingan-postingan selanjutnya.

Kenapa harus hari sabtu akhir bulan Maret?
Earth hour dilaksanakan pada hari sabtu agar tidak mengganggu aktivitas rekan-rekan pada hari kerja. Lagian hari sabtu biasanya digunakan sebagai hari untuk istirahat dan berkumpul bersama keluarga jadi setiap anggota keluarga juga bisa ikut melakukan aksi penghematan ini.

Lalu mengapa pada akhir bulan Maret? Soalnya pada akhir Maret sebagian besar negara di seluruh belahan dunia mengalami pergantian musim sehingga suhunya cukup nyaman jika pendingin maupun pemanas ruangan dimatikan sejenak selama Earth Hour. Tidak ada yang kedinginan dan tidak ada yang kepanasan :) Alasan lain memilih akhir bulan Maret lagi-lagi karena sebagian besar negara di seluruh belahan dunia sudah cukup gelap sekitar pukul 20.30 – 21.30 sehingga efek pemadaman lampu saat Earth Hour lebih terasa, berbeda jika dilakukan pada pertengahan tahun dimana beberapa negara tertentu masih terang pada jam 8 malam, efek gelapnya tidak terasa :)

Setelah satu jam, jadikan gaya hidup

Arti logo Earth Hour
Pasti ada yang bertanya nih, sebenarnya apa arti logo 60+ yang digunakan oleh Earth Hour? Logo itu pada awalnya hanya berupa angka 60 bermotif bumi loh melambangkan 60 menit waktu yang digunakan untuk berpartisipasi dalam Earth Hour namun sejak 2011 logo tersebut mendapat tambahan tanda “+” (plus). Tanda plus itu sebagai simbol bahwa penghematan itu tidak hanya dilakukan selama sejam, tapi setelah itu kita bisa melakukan aksi penghematan tambahan. Kata magic dibalik angka 60+ itu adalah “Setelah satu jam, jadikan gaya hidup”

Hari Air Sedunia 2017




Hari Air Sedunia (Inggris: World Day for Water) adalah perayaan yang ditujukan sebagai usaha-usaha menarik perhatian publik akan pentingnya air bersih dan usaha penyadaran untuk pengelolaan sumber-sumber air bersih yang berkelanjutan.

Hari Air Sedunia diperingati setiap tanggal 22 Maret, inisiatif peringatan ini di umumkan pada Sidang Umum PBB ke-47 tanggal 22 Desember 1992 di Rio de Janeiro, Brasil.

Setiap tahunnya pada Hari Air Sedunia terdapat tema khusus, contohnya pada 2009 "Air Bersama, Peluang Bersama" (Shared water, shared opportunities).

Untuk Tahun 2016 tema yang diambil adalah Water and Jobs, yang memberikan penjelasan tentang hubungannya air dan pekerjaan yang dimiliki. Hal penting lain yang akan disampaikan adalah bahwa dengan kuantitas dan kualitas air yang lebih baik berhubungan dengan pekerjaan yang lebih baik pula.

Berikut ini tema peringatan hari air sedunia sejak 1994 lalu.

1994: Caring for Our Water Resources is Everyone’s Business (Peduli terhadap Sumber daya Air adalah Tanggng Jawab Setiap Orang)

1995: Water and Woman (Air dan Perempuan)

1996: Water for Thirsty City (Air bagi Kota-kota yang Kehausan)

1997: The World’s Water: is There Enough ? (Air Dunia: Apakah Cukup?)

1998: Groundwater – the Invisible Resource (Air Tanah-Sumber Daya yang Tidak Terlihat)

1999: Everyone Lives Downstream (Setiap Orang Tinggal di Kawasan Hilir)

2000: Water for 21st Century (Air untuk Abad 21)

2001: Water for Health (Air untuk Kesehatan)

2002: Water for Development (Air untuk Pembangunan)

2003: Water for Future (Air untuk Masa Depan)

2004: Water and Disasters (Air dan Bencana)

2005: Water for Life (Air untuk Kehidupan)

2006: Water and Culture (Air dan Kebudayaan)

2007: Copying with Water Scarcity (Menanggulangi Kelangkaan Air)

2008: Sanitation (Berkaitan dengan tahun sanitasi internasional)

2009: Trans Boundary Water (Air Lintas Batas)

2010: Clean Water for a Healty World (Air Bersih Untuk Dunia yang Sehat)

2011: Water for Cities (Air untuk Perkotaan)

2012: Water and Food Security (Air dan Ketahanan Pangan)

2013: Water Cooperation (Tahun Kerja sama Air Internasional)

2014: Water and Energy (Air dan Energi)

2015: Water and Sustainable Development (Air dan Pembangunan Berkelanjutan)

Air adalah komponen utama adanya kehidupan di muka bumi ini, mari tingkatkan penghargaan terhadap air dengan tidak berlaku semena mena terhadap air dimana pun adanya. Tidak menjadikan sungai sebagai tempat pembuangan limbah sebagai contoh, atau berlaku boros dalam penggunaan air utamanya air bersih. (Wikipedia)

Hari Hutan Sedunia 2017



Hari Hutan Sedunia diperingati pertama kali pada tanggal 21 Maret 2013 berdasarkan resolusi PBB pada 28 November 2012. Peringatan ini akan dirayakan setiap tahunnya pada tanggal 21 Maret untuk saling berbagi mengenai visi misi kehutanan dan kaitannya dengan perubahan iklim di seluruh dunia serta strategi yang harus dilakukan.


Setiap tahunnya 13 juta hektare hutan (luas yang kurang lebih sama dengan luas negara Inggris) menghilang dari muka bumi. Bersamaan dengan hilangnya hutan, hilang pula ekosistem yang ada di dalamnya, termasuk spesies tumbuhan dan hewan langka. 80% keanekaragaman hayati berdiam di hutan. Deforestasi menyebabkan 12 hingga 18 persen emisi karbon dunia tidak terserap, dan nilai tersebut setara dengan emisi karbon dari transportasi di seluruh dunia. Hutan juga merupakan media sekuestrasi karbon yang utama. Selain ekosistem, populasi manusia terutama masyarakat adat di sekitar hutan sangat bergantung pada hasil hutan non-kayu untuk penghidupan mereka. (Wikipedia) 

🎼: Banda Neira - Biru
🎥: W-691 Nl

Ikan Dakocan, Salah Satu Penghuni Anemon Laut Selain Ikan Nemo

Famili : Pomacentridae

Genus : Dascyllus
Spesies : Dascyllus trimaculatus
Kelompok : Damselfishes
Nama dagang : Three spot dascyllus, three spot damselfish
Penyebaran : Meliputi areal yang luas dari Laut Merah sampai Afrika Timur dan Polynesia

 

          Ikan Dakocan, begitulah sebutan salah satu dari beragam ikan hias yang populer. Ikan ini berbadan pipih namun jika dilihat dari samping ikan ini tampak bulat. Warna badannya hitam dengan tiga buah bercak berwarna putih. Dakocan suka bermain di dekat anemon dan mencari makan diantara batu-batu karang. Di laut, makanan kesukaannya adalah udang-udang kecil dan larva kepiting. Dakocan juga suka membersihkan parasit di badan ikan lain yang berukuran lebih besar. Ikan ini memiliki nama ilmiah Dascyllus trimaculatus.


Divisi Selam WAPEALA UNDIP


Lokasi: U.S.A.T Liberty Wreck Tulamben, Bali
Fotografer: W-691 Nl


WAPEALA KEMBALI MERAIH PRESTASI DIAJANG KOMPETISI SRT SE-JATENG DAN DIY


Semarang – Mahasiswa Pecinta Alam (WAPEALA) merupakan wadah berorganisasi bagi mahasiswa Universitas Diponegoro dalam bidang kepetualangan dan riset. Pasca rangkaian kegiatan Diponegoro Moluccas Expedition (DME) yaitu Riset dalam bidang Speleologi di Balai Taman Nasional Manusela, Maluku Utara, Wapeala pun telah meningkatkan bakat dibidang kepetualangan dalam bidang Speleologi dalam hal kompetisi Single Rope Technique (SRT). SRT merupakan  salah satu media vertical dalam teknik pemanjatan dengan sebuah tali.
Senin, 19 Desember 2016 pukul 02.00 WIB WAPEALA kembali meraih prestasi di bidang SRT (Single Rope Tecnique) dengan peringkat Juara 2 Putri dalam SRT Competition Mapadoks Unisula (SCAPULA) Tingkat Provinsi Jawa Tengah dan DIY yang sebelumnya pada tanggal 28 Agustus 2016 meraih juara 2 dalam kompetisi Mapalast SRT  Competition IV se Nasional.
Kompetisi Mapadoks dilaksanakan pada tanggal 17 – 19 Desember 2016 dan dikelompokan dalam dua katagori yaitu katagori putra umum dan katagori putri umum.  Dalam katergori putra pada peringkat pertama diraih oleh Almuaidul Arwan delegasi dari Mawapala UIN Walisongo, Semarang. Peringkat kedua diraih oleh Herman Resky P delegasi dari Pangea Cruseir UPN Yogyakata dan peringkat ke tiga diraih oleh Bangkit Amirudin delegasi dari Makupella ATK Yogyakarta. Kategori putri pada peringkat pertama diraih oleh Tri Sekiningsih delegasi dari Carabiner Yogyakarta. Peringkat ke dua diraih oleh Nur Anisa delegasi dari Wapeala UNDIP Semarang dan Peringkat ke tiga diraih oleh Mayang Pramudita Yusuf delegasi dari Palapsi Psikologi UGM Yogyakarta. 
                WAPEALA UNDIP mendelegasikan 3 Atlit DME dalam kompetisi Mapadoks yaitu Heharero Tesar (Ilmu Pemerintahan, 2015), Aan Dedhi Irawan (Teknik Elektro 2015) dan Nur Anisa (Matematika, 2015). Dengan persiapan yang minim namun dari babak penyisihan ketiga kandidat tersebut mampu menyisihkan peserta lain dengan bertahan dalam kategori 16 Besar putra dan putri dari 22 peserta putra dan 17 peserta putri se-Jateng dan DIY. “Dalam Lomba SCAPULA  dari delegasi tidak ada persiapan, bahkan dari H-1 persiapan belum matang. Dilihat dari kondisi fisik dan daya tahan para delegasi sudah ada karena sebelumnya telah mengikuti kegiatan Ekspedisi DME yang persiapannya hingga 6 bulan efeknya saat mengikuti perlombaan SCAPULA maupun MSC IV dirasa mampu dan berpotensi namun tidak maksimal” Ujar Ketua Umum Alfian Prakoso Hadi.

                “Saya merasa saat perlombaan dilaksanakan masih banyak kurangnya terutama dalam persiapan dan pendidikan latihan karena terkendala dengan waktu dan tempat latihan. Dari segi waktu saya pra kompetisi tidak mengikuti pelatihan khusus karena terkendala dengan UAS. Dari segi tempat karena WAPEALA belum memiliki wall yang standar operasinal prosedur. Kondisi wall wapeala saat ini sudah tidak rekomendasi dalam segi safty prosedure bagi menunjang pelatihan bakat. Dan saat pelaksanaan tiba-tiba tubuh saya gemetar dan endurance saya kurang. Hal ini karena tubuh saya merasa kaget saat perlombaan karena tidak adanya persiapan. Namun saat menghadapi lawan saya harus tetap fokus dengan apa yang sedang saya lakukan” Ujar Anisa.
                Saat pelaksanaan kompetisi Aan Dedhi dan Heharero Tesar tersisihkan dalam kategori 8 besar namun Anisa tetap bertahan hingga babak final. Saat babak semi final anisa sempat tertiingal jauh dengan lawannya namun Anisa tetap bertahan dengan menghadapi rintangan-rintangan dalam kompetisi hingga pada titik-titik finish anisa mampu mengejar lawan yang sedang terkendala dengan ringtangan dan akhirnya Anisa dapat memenangkan sesi semi final dan melanjutkan di babak final. Pada babak Final Anisa unggul dalam set-alat dengan mata tertutup namun saat melintasi rintangan anisa kalah cepat dengan Tri, sang juara utama putri dalam kompetisi SCAPULA. (W-657 pm)


Mengungkap Keindahan Alam di Perut Bumi Indonesia Timur


Semarang – Berkegiatan di alam bebas mungkin merupakan suatu kegiatan yang menyenangkan. Meskipun, berkegiatan di alam bebas tidak melulu tentang mencari kesenangan dan jalan – jalan semata, seperti yang dilakukan oleh organisasi mahasiswa pecinta alam Universitas Diponegoro ini. Sebagai sebuah usaha dalam mewujudkan visi Universitas Diponegoro untuk menjadi universitas riset yang unggul pada tahun 2020 mendatang, WAPEALA UNDIP, sebagai organisasi pecinta alam tingkat universitas memulai proses dari misinya menjadi mapala (mahasiswa pecinta alam) yang menekankan kegiatannya pada penelitian yang hasilnya dapat dimanfaatkan oleh pemerintah dan masyarakat. Kegiatan penelitian ini dilangsungkan dalam bentuk ekspedisi.

Sebagai langkah awal, WAPEALA memulainya dengan ekspedisi Diponegoro Moluccas Expedition, sebuah ekspedisi berupa penelitian dan penelusuran goa – goa yang belum pernah dieksplorasi sebelumnya. Kegiatan ini berlangsung di wilayah Taman Nasional Manusela, Pulau Seram, Maluku Tengah. Kegiatan ekspedisi ini dilaksanakan pada tanggal 1 September – 26 September 2016, dengan tujuan awal pendataan gua – gua  yang belum terpetakan di Indonesia, pertimbangan ini mengerucut pada lokasi Taman Nasional Manusela yang memiliki kawasan karst dengan sejumlah goa yang belum pernah di eksplorasi dan memiliki potensi besar bagi wisatawan penggiat alam bebas. Mengingat Indonesia sendiri memiliki banyak tempat wisata alam yang berpotensi menjadi lokasi pariwisata kelas dunia layaknya Raja Ampat dan Bali.



WAPEALA dalam kegiatan ini bekerja sama dengan Balai Taman Nasional Manusela dalam kegiaatan pemetaan goa.  Tidak hanya pemetaan, WAPEALA juga menjalankan berbagai kegiatan lain selama di lapangan antara lain pendataan Biospel atau kehidupan goa. Pendataan dan pengamatan kehidupan sosial, ekonomi dan sosial masyarakat Desa Sawai, desa di sekitar kawasan karst Balai Taman Nasional Manusela.  Selain itu ada penelitian hidrospel, yaitu penelitian mengenai kualitas air yang terdapat didalam goa, yang terbagi menjadi tiga, baik atau dapat dikonsumsi, menengah atau dapat dimanfaatkan namun tidak disarankan untuk diminum, dan kualitas buruk atau tidak dapat  dimanfaatkan. Hasil dari pendataan ini akan dikembalikan sebagai aset data di Balai Taman Nasional Manusela dan instansi pemerintahan setempat. Hasil dari kegiatan ini dapat dimanfaatkan oleh pihak taman nasional, instansi dan masyarakat, tidak hanya dalam bidang pariwisata, namun juga dalam bidang sumber daya dan pemanfaatan lahan.

“Sasaran dari hasil kegiatan kami adalah umum, gak cuma caver atau mapala. Orang yang belum kenal tentang goa dan pariwisata  goa juga bisa paham tentang manajemen sumberdayanya baik alam, manusia dan lingkungannya” jelas Nurul Aenunnisa (21) mahasiswi jurusan Agribisnis, Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Diponegoro yang menjabat sebagai Humas WAPEALA UNDIP periode 2016.
“tentunya masyarakat jadi lebih tau komponen – komponen dalam goa, apalagi perihal sumber air dan struktural lahan, karena struktural lahan dan tanah juga akan mempengaruhi aktivitas di permukaan tanah seperti pertanian, pemanfaatan lahan, apalagi pembangunan di permukaan karst yang masih perlu di evaluasi” tambahnya.
Persiapan Fisik dan Mental Yang Matang, Tidak Asal Berangkat
Kegiatan alam bebas akan sangat menguras banyak energi, ditambah lagi medan yang berat dan memiliki resiko kecelakaan yang tinggi, membuat kita yang ingin melakukan kegiatan outdoor seperti mendaki gunung, menelusuri gua, memanjat tebing, rafting dan menyelam membutuhkan tidak hanya sekedar nyali, namun fisik yang prima dan keterampilan yang mumpuni. Dibutuhkan latihan yang cukup dan menjaga kondisi tubuh agar benar – benar siap seperti yang dilakukan oleh Mahasiswa – mahasiswa UNDIP yang tergabung dalam tim Diponegoro Moluccas Expedition (DME) yang terdiri dari Heharero Tesar A, Ani Febriastati, Annisa Chairany Mutia tegas, dan Nur Anisa.

Tim DME menjalani serangkaian pendidikan latihan dan simulasi demi menambah jam terbang dan mengasah keterampilan sebelum benar – benar siap melaksanakan ekspedisi yang berdurasi hampir satu bulan.
“Kami melaksanakan seleksi dan diklat selama hampir empat bulan terhitung dari proses seleksi pada bulan Mei 2016, kami juga melaksanakan tiga kali simulasi lapangan, kami memulai simulasi soft di Grobogan, Purwodadi selama sepuluh hari, lalu simulasi Medium di areal karst Gunung Kidul, Yogyakarta dan simulasi hard di daerah Gombong, Banyumas” ujar Aan, salah satu anggota tim DME.

“Selama diklat itu kami juga menerapkan cara – cara penelusuran goa baik tipe gua vertikal maupun horizontal, salah satu teknik paling sering kami terapkan yaitu tehnik  Single Rope Technique atau SRT tehnik ini kami gunakan karena sebagian besar gua yang kami telusuri adalah gua vertikal, tehnik SRT sendiri adalah tehnik untuk menuruni gua menggunakan tali Carmantel, dengan satu set alat pengamanan pada Harness yang kami kenakan” tambahnya.
Aan dan kawan – kawan sendiri merasa bangga karena setelah melewati jadwal latihan yang cukup ketat dan disiplin itu membuat ia dan kawan – kawannya berhasil membawa nama Universitas Diponegoro dan WAPEALA untuk melaksanakan ekspedisi yang hasilnya dapat bermanfaat untuk masyarakat.
Seminar Nasional Speleotourism dan Seminar Hasil Diponegoro Moluccas Expedition sebagai Upaya Pengembangan Pengetahuan Pariwisata Goa
Kurang lebih 150 peserta  pada hari Sabtu, 15 Oktober 2015 memenuhi di Auditorium Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Diponegoro, Semarang dalam partisipasi kegiatan Seminar Nasional Speleotourism dan Seminar Hasil Diponegoro Moluccas Expedition  yang di selenggarakan oleh Mahasiswa Pecinta Alam (WAPEALA) Universitas Diponegoro. Seminar Nasional Speleotourism merupakan seminar yang bertujuan untuk menginformasikan dan Sharing Pengembangan Pengetahuan Pariwisata Goa. Dan Seminar Hasil Diponegoro Moluccas Expedition (DME) merupakan akuntabilitas atlit DME di kegitan Diponegoro Moluccas Expedition yang telah dilaksanakan pada tanggal 1 September – 26 September 2016 di Balai Taman Nasional Manusela (TNM), Pulau Seram, Maluku Tengah, cakupannya meliputi penelitian di bidang caving (goa). Dua kegiatan tersebut di menjadi kesatuan dalam kegiatan Seminar Nasional Speleotourism.
“seminar ini bertujuan untuk memaparkan hasil – hasil dari expedisi kami, karena kami menyadari bahwa keindahan goa dapat menjadi salah satu potensi wisata di Indonesia yang belum terlalu dieksplorasi dan wajib kita lestarikan” ujar Heharero Tesar sebagai salah satu atlet DME.
“selain itu hasil dari penelitian kami akan berguna bagi masyarakat, dalam hal ini adalah pemanfaatan wilayah karst, karena walaupun areal karst akan sangat dibutuhkan sebagai areal tambang semen, namun karst juga menjadi potensi wisata sekaligus area sumber air bagi masyarakat,  oleh karena itu dengan mensosialisasikan hasil penelitian kami melalui seminar ini agar yang kami harapkan masyarakat dapat memanfaatkan sumber daya karst secara efisien, tanpa harus mengeksploitasinya” tambahnya.
Muatan dalam kegiatan Seminar Nasional Speleotourim terdiri dari pemrasaran pertama perihal “Pendataan Goa - Speleology and Tourism” oleh Anggota Pusat Penelitian Biologi LIPI dan President of Indonesian Speleological Society, Dr. Cahyo Rahmadi. Pemrasaran ke-2 perihal “ Pengembangan Speleo – Tourism melalui Pendekatan Pembangunan Pariwisata Berkelanjutan” oleh Kementrian Pariwisata sekaligus Dosen di Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung yaitu Dr. Hery Sigit Cahyadi., A.Par., M.Par. dan pemrasaran ke-3 perihal “Akuntabilitass Kegiatan Diponegoro Moluccas Expedition yang di paparkan oleh Ketua Atlit DME, Anggota WAPEALA UNDIP yaitu Heharero Tesar Ashidiq dan dipengujung acara dipersembahkan pameran foto dalam proses kegiatan Pra dan Pelaksanaan kegiatan DME yang terdiri dari kegiatan Soft Simulation di Kawasan Karst Kiskendo, Kendal., Medium Simulation Kawasan Karst Geopark Gunung Sewu, Gunung Kidul, DIY.., Hard Simulation di Kawasan Karst Gombong, Purwodadi dan Pelaksanaan kegiatan DME di Kawasan Karst Balai Taman Nasional Manusela, Pulau Seram, Maluku Tengah. (W 643 Grr)